Nah!! back to ulasan tadi. Menurut Hanung Bramantyo sang sutradara, tokoh Fachri yang tergambarkan dalam Novel sangat tidak manusiawi. Yak betulll sekali!!! rupanya sesuatu yang mengganjal di hati saya ini dirasakan juga sama Pak Sutradaranya he he he he.....
Saya jadi ingat kejadian suatu hari ketika saya dan sodara sepupu saya sedang berada dalam perjalanan ke Surabaya. Klo ga salah waktu itu saya yang nyetir. Karena sepupu saya juga pembaca Novel Ayat Ayat Cinta, maka perbincangan bedah novel pun tak terelakkan. "Novelnya baguss!!! aq suka lokasi cerita nya.. Mesir gtuuu wiiihhh, baca novelnya serasa di Mesir, aku jadi mbayangin gtu panasnya kota mesir, gedung2 nya, orang2 nya, trem listriknya, budayanya, Universitasnya... tapii kok aku rada ga suka yaa sama tokoh Fachri itu.. kok yaa kayaknya digambarkan Hidupnya sempurna banget, udah cakep, pinter, dapet istri yang superrr cuantik and kaya lagiii.. ck ck ck..." itu komentar saya mengawali perbincangan. Pendapat saudara sepupu saya beda lagi, dia cenderung membela gambaran si tokoh Fachri ini. Mungkin karena saudara saya itu cowok, jadi dia mengagumi si Fachri atau Fachri wanna be kali he he he (maaf yang bersangkutan klo baca cerita ini jangan pernah sakit hati yaaa.. coz cerita ini muncul berdasarkan situasi yang saya tangkap dan rasakan saat itu). Dan begitulah perbincangan bedah novel kita yang penuh pro dan kontra sepanjang jalan menuju Bakpo Telo. Setelah Bakpo Telo sampe Surabaya topik perbincangan kita berubah gara-gara lumpur Lapindo.
Tak dinyana dan tak disangka hari ini setelah membaca ulasan tadi. Ternyata ada gtu orang yang sependapat dengan saya yaitu tak lain dan tak bukan Sutradara Film nya sendiri hehe. Mengutip kalimat ulasan tersebut "Dia pintar, ganteng, banyak disukai wanita. Empat bahasa dia kuasai. Kalau saya filmkan persis di Novel, tidak ada bedanya dengan Catatan si Boy dong. Apa menariknya? Bukan zamannya lagi film Indonesia memberikan tokoh super" ucap Hanung sang sutradara. Whuahhh betull sekali tuh... trus trus Bagaimana tanggapan penulis Novel nya sendiri?? ternyata Kang Abik menyetujui kok kreativitas Mas Hanung dalam mengembangkan cerita maupun tokoh dari Novel.
Yokattaa!!!! saya lega waktu membaca kalimat itu.. artinya antara Penulis Novel dan Pembuat Filmnya terjalin kerjasama yang baik. Dan saya yakin ketika selesei menonton Filmnya nanti saya akan keluar dari theatre dengan senyum puas sambil mengantongi nilai nilai moral dari Film itu. Nilai-nilai moral itu pun tidak hanya dari Filmnya saja, tapi dari novelnya dan juga cerita cerita di balik penyusunan novel maupun pembuatan Film yang telah saya baca dari website, koran dan tabloid jauuuhhh sebelum Filmnya sendiri premiere di Malang.

